SPTI Bandung Imbau Pengemudi Angkutan Konvensional Jaga Kondusifitas

Angkutan Kota (konvesional) di Kota Bandung. (Foto : Iman Mulyono/Polanusa).

Bandung, Polanusa – Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) Bandung, ‎Ana Sumarna mengatakan, pihaknya mengimbau kepada para pengendara transportasi konvensional untuk bisa menjaga kondusifitas tidak melakukan hal yang merugikan pihak lain.

Hal tersebut disampaikan Ana karena banyak informasi-informasi tidak benar atau hoax soal penyerangan kepada pengendara transportasi online. Dia pun menegaskan, agar para angkutan transportasi konvensional tidak melakukan aksi mogok lagi sambil menunggu keputusan resmi dari pemerintah.

“Saya hanya mengimbau kepada teman teman agar tetap menjaga kondusifitas. Sampai hari ini belum dengar informasi ada kejadian yang merugikan kita tetap akan menjaga stabilitas. Kalaupun terjadi masalah kita pasti terima info itu,” kata Ana di Sekretariat DPC SPTI, Jalan Kebon Jati, Kota Bandung, Kamis (12/10/2017).

Dijelaskan dia, saat ini ada sekitar 38 trayek angkutan umum di Kota Bandung. Abila digabung dengan transportasi konvensional lainnya seperti taksi, total keseluruhan trayek ialah 56. Apabila semuanya mogok, maka bisa menimbulkan kelumpuhan kota.

“‎Jumlah driver angkutan umum kurang lebih 12000 orang di Kota Bandung, kita tetap mengimbau rekan-rekan agar tetap kondusif. Rencana pemogokan kemarin kan walau tidak jadi tapi tetap aja ke bawah tidak sampai masih ada yang mogok,”  kata dia.

Sementara itu, terkait regulasi soal transportasi online pihaknya menyerahkan kepada pemerintah yang sedang merumuskan aturannya. Setiap pihak diminta agar jangan bertindak gegabah dan menunggu keputusan dari pemerintah. Sebab, lanjutnya, transportasi publik ini merupakan tanggung jawab dari negara.

“Perkembangan transportasi tentu berpengaruh pada kemajuan kota. Di negara lain, transportasi publik tanggung jawab negara. Dengan kata lain, negara harus bisa mensubsidi transportasi. Di Indonesia saja muncul perusahaan swasta di luar negeri di kuasai negara,” kata dia.

Peraturan yang mengatur transportasi online hingga kini, masih dalam tahap pembahasan pemerintah pusat. Apa sesungguhnya yang diinginkan oleh para pengendara transportasi konvensional?.

Disetarakan

Sementara itu, ragam komentar disampaikan pengendara transportasi konvensional. Misalnya, Dede (27), Supir angkutan umum trayek Ciumbuleuit – Stasiun Bandung ini mengatakan dirinya mengharapkan Transportasi online bisa disetarakan seperti angkutan umum dengan berplat kuning.

Dede menganggap, sejak kemunculan transportasi online pendapatannya berkurang. Selain itu angkutan konvensional pun harus memenuhi berbagai macam persyaratan contohnya, uji KIR. “‎Jujur saja, semakin berkurang bahkan setoran aja nombok. Mereka (transportasi online) kan tidak ada setoran dan bergerak  bebas,” kata Dede.

Hal senada diungkapkan Saepul (43), supir angkot trayek Gunung Batu – Stasiun Bandung ini menerangkan, ongkos Transportasi Online terbilang murah sehingga cukup menarik perhatian masyarakat. Sehingga banyak yang beralih ke moda transportasi baru itu.

“‎Mereka kan ga setoran, sedangkan kita (angkot) setoran. Setoran saya perhari Rp 130 ribu, kadang – kadang saya dapat Rp 80 ribu jelas saya nombok. Kita masih menunggu, hingga peraturan itu (soal Transportasi online) terbit,” kata Saepul.

Namun, meski pendapatannya berkurang Saepul memilih tetap bertahan karena mengingat sulitnya mencari pekerjaan lain di usianya yang mulai renta. “Mau pindah juga kemana lagi umur saya ga memungkinkan,” kata dia.

***Iman Mulyono.

< Selamat Hari-Santri-Nasional_PKB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *