Kemenag Gelar FGD Penguatan Moderasi Islam di Pondok Pesantren

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Ahmad Zayadi (kiri) dan Pengasuh Pondok Pesantren dalam FGD di Jakarta, Selasa (26/12/2017). (Humas Kemenag).

Jakarta, Polanusa – Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren mengundang sejumlah kyai pondok pesantren ke Jakarta untuk mengikuti  Focus Group Discussion (FGD) yang membahas penguatan moderasi Islam di pondok pesantren.

Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Ahmad Zayadi menyampaikan sejumlah narasumber dihadirkan dalam FGD tersebut, antara lain Direktur Deradikalisasi BNPT Prof. Irfan Idris ; Peneliti PPIM UIN Jakarta M. Hilali Basya; Direktur Fahmina Institute Marzuki Wahid dan Mantan narapidana terorisme Sofyan Tsauri.

“Tantangan umat Islam, terutama pondok pesantren hari ini dan ke depan adalah bagaimana pesantren mampu menjawab dan menyikapi perbedaan dan keragaman dalam kehidupan,” kata Zayadi  di Jakarta, Selasa (26/12/2017) malam.

Menurut Zayadi,  komunitas pesantren kaya akan khazanah pemikiran dan perspektif komparatif  yang tertuang dalam kitab-kitab kuning. Tidak sedikit dari kitab-kitab kuning yang memuat perspektif komparatif. Dalam kajian fikih misalnya, dikenal adanya fikih muqaran.

Kekayaan khazanah ini memberi pelajaran bagi para santri tentang  bagaimana para ulama terdahulu berargumentasi untuk menopang pendapat mereka masing-masing, meski pada akhirnya mereka mengambil pendapat yang paling unggul.

“Pada tataran ini, para santri cenderung menyikapi perbedaan pendapat para ulama dengan kepala dingin, tanpa sikap takfir (mengkafirkan). Kondisi inilah yang dapat mengantarkan para santri  pada sikap yang tidak mudah menyalahkan orang lain sepanjang memiliki argumentasi yang kuat,” jelasnya.

Terkait hal itu, Zayadi mengajak para kyai untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman guna merumuskan hal terbaik bagi pengembangan pesantren, khususnya dalam penguatan moderasi Islam.

“Mari bersama-sama membangun bangsa Indonesia ke depan dalam perspektif orang-orang pesantren yang senantiasa menghargai warisan tradisi intelektual masa lalu, tanpa harus menutup diri dari konstelasi perubahan dan perkembangan zaman,” kata Zayadi.

“Kondisi inilah, diakui atau tidak, menjadi benteng paling kokoh yang melindungi komunitas pesantren dari infiltrasi paham ideologi yang radikal,” tandas Ahmad Zayadi.

***Nurochman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *